Untukmu
Ayah…. (yang telah tiada)
Kini aku telah dewasa. Kini aku melangkah melaju mengejar mimpi
dan ketenangan. Memburu jauh lebih cepat dengan laju langkahku mengarungi
kisah. Membentangkan alur keabadian di sela-sela ceritaku. Tak lain peranmulah
yang bersembunyi yang menjadikan malam-malam kehidupan benar-benar sempurna.
Sungguh kau luar biasa.
Cinta dan rasa sayangku yang bersolek untukmu, akan selalu
berkibar bagai bendera pejuang. Mengepal kuat dan menyebarkan kasihnya dalam
segala peristiwa. Waktulah yang membuatmu untuk terlelap selamanya dalam
tidurmu. Setelah semalaman kita bercengkrama riang. Kepergianmu merentaskan
wajah tirusku untuk selalu tegar menghadapi kesulitan hidup.
Di hari yang mana kita bisa bercengkrama lagi Ayah?
Dan hati yang tak bertenaga ini berjalan, Menepi namun tak
menepi. Berlayar namun tak berlayar. Berjalan kaku, dengan iramanya
sendiri. Namun cintaku akan selalu mendendangkan lagunya untukmu. Akan
terus terjaga di balik musim.
Wahai kau yang kurindu. Gemuruh keresahan ini tiada pernah
bersembunyi di balik bilik-biliknya. Meski waktu tak berbicara banyak
tentang seluruh hatiku, tapi celotehku akan terus berucap, aku selalu
mencintaimu Ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar