Suara Merpati
Maafkan jika secarik kertas putih tak berpesan sampai ke jendela rumah mu
Bukan salah burung itu
jangan mengutuk hembusan angin
Salahkan aku
Karna aku adalah jawaban dari tiap tanda Tanya yang akan terlontar dari mulut dan isi kepala
dan bagaimana kepengecutan membuat kelu lidah
Namun aku tlah mengajajari merpati itu bicara
Biar Ia bercerita kepada semesta tentang rasa
yang mengenalkan ku pada rindu pada cemburu
pada sakit yang aku berinama cinta
Biar Ia bernyanyi menyenandukan syair romansa
Di iringi mega orkestra seribu malaikat
Mengamini suara deguban dalam hati
Aku mengatakan cinta dengan suara merpati.
Deadline Penerimaan Naskah Lomba Tanggal 31 Mei 2013.
FAM Indonesia ( Forum Aktif Menulis Indonesia )
Langkah Menjadi Penulis Profesional.
Sabtu, 01 Juni 2013
Puisi Karya Yani Suprayugo
Cinta Jati Diri
Kumaki diriku sendiri yang kian tak terkendali
Mencari-cari arti hidup ini,terkadang sulit dimengerti
Kuingkari pola pikirku yang sering dilingkupi iri hati
Kunikmati hari dengan melawan sepi dan benci
Matahari, bulan dan bintang ingin membawaku kembali
Namun aku tak peduli,memang hidup harus begini
Menjadi diri sendiri
Kumaki diriku sendiri yang kian tak terkendali
Mencari-cari arti hidup ini,terkadang sulit dimengerti
Kuingkari pola pikirku yang sering dilingkupi iri hati
Kunikmati hari dengan melawan sepi dan benci
Matahari, bulan dan bintang ingin membawaku kembali
Namun aku tak peduli,memang hidup harus begini
Menjadi diri sendiri
Puisi Karya Resty Destariza
Untukmu
Ayah…. (yang telah tiada)
Kini aku telah dewasa. Kini aku melangkah melaju mengejar mimpi
dan ketenangan. Memburu jauh lebih cepat dengan laju langkahku mengarungi
kisah. Membentangkan alur keabadian di sela-sela ceritaku. Tak lain peranmulah
yang bersembunyi yang menjadikan malam-malam kehidupan benar-benar sempurna.
Sungguh kau luar biasa.
Cinta dan rasa sayangku yang bersolek untukmu, akan selalu
berkibar bagai bendera pejuang. Mengepal kuat dan menyebarkan kasihnya dalam
segala peristiwa. Waktulah yang membuatmu untuk terlelap selamanya dalam
tidurmu. Setelah semalaman kita bercengkrama riang. Kepergianmu merentaskan
wajah tirusku untuk selalu tegar menghadapi kesulitan hidup.
Di hari yang mana kita bisa bercengkrama lagi Ayah?
Dan hati yang tak bertenaga ini berjalan, Menepi namun tak
menepi. Berlayar namun tak berlayar. Berjalan kaku, dengan iramanya
sendiri. Namun cintaku akan selalu mendendangkan lagunya untukmu. Akan
terus terjaga di balik musim.
Wahai kau yang kurindu. Gemuruh keresahan ini tiada pernah
bersembunyi di balik bilik-biliknya. Meski waktu tak berbicara banyak
tentang seluruh hatiku, tapi celotehku akan terus berucap, aku selalu
mencintaimu Ayah.
Puisi Karya Nur Hayati
Untukmu Guruku
Tiada penyair yang mampu sastrakan ketulusanmu
Tiada seniman yang mampu lukiskan pengabdianmu
Tiada lidah yang mampu uraikan keikhlasanmu
Karena bagiku,
Kau sastra terindah yang hadir dalam alur sajak ku
Kau lukisan termahal yang pernah hidupkan imajinasi ku
Dan engkau pula lidah penerang dalam tiap tutur kata ku
Kau kenalkan setetes ilmu masa depanku
Kau berikan sebait pituduh peneranganku
Kau sematkan selarik cinta untuk mendidikku,dan
Kau uraikan sepenggal pengalaman untuk wawasanku
Tiada kata jenuh kau mengajariku
Di antara detik demi detik poros waktu
Di antara keluh kesah menghampiri raut wajahmu,dan
Di antara celah-celah batin semangatku
Terima kasih untukmu guruku.
Tiada penyair yang mampu sastrakan ketulusanmu
Tiada seniman yang mampu lukiskan pengabdianmu
Tiada lidah yang mampu uraikan keikhlasanmu
Karena bagiku,
Kau sastra terindah yang hadir dalam alur sajak ku
Kau lukisan termahal yang pernah hidupkan imajinasi ku
Dan engkau pula lidah penerang dalam tiap tutur kata ku
Kau kenalkan setetes ilmu masa depanku
Kau berikan sebait pituduh peneranganku
Kau sematkan selarik cinta untuk mendidikku,dan
Kau uraikan sepenggal pengalaman untuk wawasanku
Tiada kata jenuh kau mengajariku
Di antara detik demi detik poros waktu
Di antara keluh kesah menghampiri raut wajahmu,dan
Di antara celah-celah batin semangatku
Terima kasih untukmu guruku.
Puisi Karya Luqman Taufiq Hidayah
Dirimu Sangatlah Berarti
Dalam redam remuk menggelora
Menjalar bak akar yang kuat
Jiwa ini semakin kokoh
Bahkan tak akan tergoyahkan
Nafas nan semakin membara
Bersama tiupan awan yang
menjelma
Berpacu dalam kasih dan
cinta suci
Membekas meninggalkan angan
dan kerinduan dihati
Terbang bagai permadani
angin
Menembus awan menerjang sepi
Tawa yang seakan membahana
setiap hari
Senyuman ini sungguh sangat
aku nanti
Hanya harapan dan doa yang
selalu aku haturkan
Bersama cinta kasih ini aku
berikan
Semoga tuhan selalu
mempertemukan
Dua insan yang tak pernah
terpisahkan
Puisi Karya Jelita Puspita Sari
Aku Ingin Pulang
Pelangi??
Apakah masih ada pelangi dalam hidupku?
Ini pertanyaan bodoh!
Ini pertanyaan yang meragukan kehebatan Tuhan
Tuhannn,
aku lemah…
Aku
tak mampu melewati ini semua
Daging
dan hatiku lenyap tanpa sisa
Tuhan, kapan aku ke surga bersamaMu
Kapan Tuhan aku merasakan tempat yang kekal
itu?
Aku
ingin pulang ke rumahMu Tuhan
:
Puisi Karya Kholifaturokhma
Pujangga Biru
Dalam
rekahan senyummu mengarungi hati,
kugoreskan
cinta kasih teruntukmu pujanggaku.
Pun
bayangmu selalu mencumbu dalam rindu.
Mengabadikan
kenangan yang telah kau rangkum bersama,
kala
kuukir kisah lembah asmara yang kubangun.
Kini,
Dunia tak lagi sanggup
berkelana jauh.
Laut badai tak jua mampu
menelan layar cintamu.
Awan kelut pun tak sanggup
meredam rindumu.
Karena aku tak ingin kau
terlena sesaat.
Sejak Tuhan pahatkan rajutan
kisah terdalam,
dengan nada cinta tertinggi
yang melingkari suratan hidup,
antara aku dan dirimu.
Sunguh aku mencintaimu,
duhai pujangga biru.
Purnama Abadi
Kasih mencumbu syahdu dalam pikir
Masih tentangmu hey pujangga
Kala kulelap dalam pangkuanmu
Dan hati tetap merasa detak cintamu
Pun sang waktu terus mengitari
Menemani jejak sayangmu
Duhai kasih yang tak lelap ditelan masa
Kasih abadi tak berpisah jarak
Tak menyangka tak menerpa
Pujangga kembali memeluk
Dalam bahagia merajut damba
Menumbuh cinta kasih
Takkan terdampar sia dalam diam
Menyatu jua membalut kisah
Kau aku tetap padu dalam asmara purnama
Wonosobo, Maret 2013
Langganan:
Postingan (Atom)






